Sidang Majelis Komisi dalam putusan taiko Plantations. (foto : KPPU RI)


Medan.top
- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan Taiko Plantations Pte Ltd melanggar Pasal 29 UU No. 5 Tahun 1999 Jo. Pasal 5 PP No 57 Tahun 2010, karena terlambat laporkan penggabungan usaha.

 

Majelis Komisi kemudian menghukum perusahaan itu membayar denda sebesar Rp 1,5 miliar. Serta menyetorkannya ke kas negara selambat-lambatnya 30 hari setelah putusan inkracht. Keputusan ini ditetapkan dalam Sidang Majelis Komisi Pembacaan Putusan, Senin (15/3/2021) di Jakarta.

 

Sanksi diberikan karena perusahaan terlambat laporkan atau memberitahu pengambilalihan saham yang dilakukan kepada PT Putra Bongan Jaya.

 

Dalam siaran pers yang diterima wartawan, Selasa (16/3/2021) dijelaskan kasus dengan nomor register 18/KPPU-M/2020 ini berawal dari penyelidikan yang dilakukan oleh KPPU atas notifikasi Taiko Plantations Pte Ltd. Yakni dalam transaksi pengambilalihan yang dilakukan atas 95% saham PT Putra Bongan Jaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit.

 

Dalam proses penyelidikan, diketahui tanggal efektif yuridis transaksi adalah 25 Juli 2018. Padahal seharusnya dilakukan pemberitahuan kepada KPPU paling lambat 6 September 2018. Namun, Taiko Plantations Pte. Ltd. baru menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada KPPU pada tanggal 8 April 2020.

 

Majelis Komisi Rekomendasikan Pemetaan Kekuasaan Lahan Sawit

 

Berdasarkan fakta tersebut, Majelis Komisi juga merekomendasikan kepada Menteri ATR/BPN untuk berkoordinasi dengan KPPU terkait pemetaan kekuasaan lahan sawit di Indonesia. Khususnya komposisi penguasaan lahan sawit oleh pelaku usaha asing dan afiliasinya.

 

Selain itu juga merekomendasikan kepala daerah yang berwenang untuk mengeluarkan izin lokasi dan izin usaha perkebunan. Sehingga berkoordinasi dengan KPPU terkait penguasaan lahan sawit di Indonesia.

 

Untuk diketahui putusan sidang untuk Perkara No. 18/KPPU-M/2020 dipimpin sidang Kodrat Wibowo, dengan Anggota Harry Agustanto dan Dinni Melanie.

 

Reporter : Amelia Murni

Lebih baru Lebih lama