Pahami kriteria saham syariah. (foto : bareksa)


Medan.top - Jumlah investor yang bertransaksi efek syariah di Pasar Modal Indonesia kian bertambah dalam satu dekade, diikuti semakin besarnya transaksi efek syariah. Terutama di Ramadhan ini, efek syariah menjadi primadona. Namun, bagaimana kita tahu daftar saham syariah?

 

Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Medan, Muhammad Pintor Nasution, menjelaskan efek syariah di pasar modal terdiri atas sejumlah instrumen. Seperti saham syariah, sukuk, reksa dana syariah dan etf syariah. Saham syariah dan sukuk biasa dibeli dan dikelola sendiri tiap investor. Sedangkan reksa dana dan etf syariah, dikelola oleh Manajer Investasi. Investor bisa membeli reksa dana syariah melalui Manajer Investasi yang mengelola reksa dana syariah. "Atau melalui agen penjual reksa dana, seperti bank dan agen penjual lainnya," tuturnya, Kamis (15/4/2021).

 

Kemudian, bagaimana seorang investor mengetahui saham yang dipilihnya masuk daftar saham syariah, yang memenuhi kriteria saham syariah?

OJK yang Umumkan DES

 

Aktivitas perdagangan di pasar modal diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nah, OJK lah yang mengumumkan  Daftar Efek Syariah (DES). OJK menyeleksi saham-saham emiten atau perusahaan publik yang sesuai dengan prinsip syariah bersama Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).

 

"DES diterbitkan OJK sebanyak dua kali dalam setahun atau setiap semester. Penetapan efek syariah ini, dilakukan berdasarkan beberapa kriteria. Mulai dari kegiatan usaha, rasio utang berbasis bunga/riba terhadap aset. hingga rasio persentase pendapatan non-halal terhadap total pendapatan," terangnya.

 

Pintor mengatakan berdasarkan data tim BEI, pada tahun 2007, Bapepam-LK menerbitkan Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Kemudian diikuti dengan peluncuran DES pertama kali oleh Bapepam dan LK. Ketika itu rasio keuangan yang dipakai adalah rasio utang berbasis bunga/riba terhadap ekuitas. Yang toleransinya tidak boleh lebih dari 82 persen.

Pendapatan Non Halal Terhadap Pendapatan Tidak Boleh Lebih dari 10 Persen

Selanjutnya pada 2012, dilakukan perubahan terhadap kriteria tersebut dengan diterbitkannya Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: KEP-208/BL/2012. Rasio utang terhadap ekuitas diganti menjadi rasio utang terhadap aset dan berlaku hingga saat ini. Persentase rasionya juga berubah. Saat ini kriteria screening saham syariah adalah rasio utang berbasis bunga/riba terhadap aset tidak boleh lebih dari 45 persen. Kegiatan emiten tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Dan pendapatan non-halal terhadap total pendapatan tidak boleh lebih dari 10 persen.

 

Kemudian, screening saham untuk penerbitan DES melewati dua tahap. Pertama, screening efek syariah dilakukan terhadap kegiatan usaha emiten. Apakah kegiatan usaha emiten ini bertentangan dengan prinsip syariah atau tidak.

 

Efek Syariah Tidak melakukan kegiatan Usaha di Bidang Perjudian

 

Kegiatan usaha yang dikategorikan efek syariah antara lain tidak melakukan kegiatan usaha di bidang perjudian. Kegiatan perdagangan yang dilarang, jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian, memperdagangkan barang haram. Serta transaksi yang mengandung unsur suap, dan jasa keuangan ribawi. Jika tidak melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, maka emiten lulus seleksi tahap awal.

 

Kedua, analisis rasio keuangan perusahaan. Dalam tahap ini emiten yang memiliki usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Diseleksi kembali total utang berbasis bunga/riba dibandingkan total asetnya. Yaitu tidak boleh melebihi 45 persen. Selain itu, total pendapatan non-halal dibandingkan dengan total pendapatan seluruhnya tidak boleh melebihi 10 persen. Apabila emiten memenuhi semua kriteria tersebut, maka sahamnya akan masuk dalam daftar efek syariah yang diterbitkan OJK.

 

Redaksi

Lebih baru Lebih lama